Harta nasional

Mieidō

1666 (pertengahan Periode Edo)
Bangunan memanjang dengan sembilan bentang
Rentang antar balok melintang dengan sembilan bentang
Lapisan tunggal
irimoya-zukuri
Proyeksi di bawah tritisan atap di sisi belakang
Atap limas tiga bentang
Proyeksi di sisi timur
Struktur memanjang satu bentang
Harima-ikken (Bangunan yang memiliki satu ruang antar piler di sisi pendek)
irimoya-zukuri
pintu masuk tsumairi
hongawara-buki

Artikel ini dapat dibaca dalam 2 menit.

御影堂

Temui Biksu Suci Shinran
dalam perjalanan melintasi waktu

Mieidō adalah aula yang dibangun untuk menempatkan patung pendiri kuil. Di Kuil Senjuji, aula Mieidō menyemayamkan patung kayu Shinran Shōnin (1173–1263), pendiri Buddhisme Jōdō Shinshū dan Kuil Senjuji. Lukisan wajah para kepala biara berikutnya tergantung di kedua sisi patung Shinran.

Mieidō dirancang untuk merepresentasikan kosmologi Jōdō Shinshū melalui arsitekturnya. Tepat di bagian dalam pintu masuk, aula tampak sederhana dan tanpa hiasan, tetapi dinding belakang berlapis kertas emas dan lukisan berwarna cerah. Altar bagian dalam juga berlapis kertas emas dan melambangkan Gokuraku—Tanah Murni Amida Nyorai, yang merupakan Buddha Cahaya dan Kehidupan Abadi. Dipercaya bahwa bunga berjatuhan dari langit di Tanah Murni, dan panel pada plafon berpanel petak dihiasi lukisan bunga krisan.

Plakat pada transom (panel melintang) di atas altar bertuliskan kenshin, istilah Buddha yang berarti “menemukan kebenaran melalui kebijaksanaan.” Kata ini juga merupakan bagian pertama dari nama anumerta Shinran, yaitu Kenshin Daishi. Transom (panel melintang) dihiasi dengan desain geometris berwarna biru, hijau, dan merah. Ukiran burung serta bunga peony merah dan putih menghiasi setiap bagian transom (panel melintang) atas, sedangkan transom (panel melintang) bawah dihiasi ukiran bunga peony berukuran besar berlapis kertas emas. Tanaman dan bunga teratai merupakan motif yang kerap muncul di dinding aula dan melambangkan potensi manusia untuk memasuki Tanah Murni. Seperti halnya tanaman teratai yang tumbuh dari air berlumpur, demikian pula manusia dapat bangkit menuju Tanah Murni dari kekotoran duniawi.

Mieidō yang asli selesai dibangun pada tahun 1400-an, tetapi hancur dalam kebakaran pada tahun 1645. Rekonstruksi dimulai pada tahun 1666 dan selesai tahun 1679, menjadikan Mieidō bangunan tertua di Kuil Senjuji. Aula aslinya menghadap ke selatan, tetapi selama tahun 1600-an sebagian besar kuil Jōdō Shinshū dibangun menghadap ke timur, untuk lebih merepresentasikan lokasi Tanah Murni di barat. Terjadi perdebatan penting mengenai apakah akan mengubah orientasi aula, tetapi akhirnya, Mieidō dibangun kembali menghadap ke selatan. Pertimbangan alasan praktis yang dipilih, seperti fakta bahwa jalan ziarah ke Ise membentang di sepanjang perbatasan selatan kuil, serta angin kencang dari timur laut dapat memadamkan lentera dan lilin kuil pada musim semi dan musim panas.

Banyak tukang kayu dan pengrajin yang membangun Mieidō baru, merupakan pekerja dari Keshogunan Tokugawa. Sebagian besarnya berbasis di wilayah Kantō, dan banyak yang pernah mengerjakan aula di Nikkō, Prefektur Tochigi. Mieidō dibangun dengan gaya tradisional Jepang, dan memiliki atap pelana dan perisai yang tinggi dengan ukiran detail yang menghiasi ruang di bawah atap pelana.

Mieidō merupakan bangunan terbesar di Kuil Senjuji, luasnya lebih dari 1.400 meter persegi atau 780 tikar tatami. Bangunan ini dirancang sebagai aula untuk pertemuan besar dan masih digunakan untuk khotbah dan ibadah lainnya. Ibadah diadakan di Mieidō setiap hari pada pukul 07.00 pagi.

Silakan jawab kuesioner kami.

Perkiraan waktu: 30 detik

Kuesioner

Silakan berikan penilaian terhadap halaman warisan budaya ini (Total 4 pertanyaan)

1/4

Panduan audio

0:00 0:00